SPMMN 2013: Muslim, Muda, Membangun Negeri.

July 20, 2013 § Leave a comment

Seminar Pemuda Muslim Membangun Negeri 2013, disingkat SPMMN 2013 adalah sebuah kegiatan berkumpulnya para pemuda muslim untuk saling berbagi inspirasi dan motivasi berkarya. Kegiatan  ini merupakan acara perdana yang juga menjadi sebuah momentum terbentuknya gerakan “Pemuda Muslim Membangun Negeri (PMMN)” sebuah gerakan pemuda Islam yang berbasis keprofesian dan pengabdian masyarakat untuk turut membangun Indonesia yang lebih baik.

Acara ini telah diselenggarakan pada Ahad, 14 Juli 2013/ 5 Ramadhan 1434 H, bertempat di SMESCO Convention Hall, Jakarta, dihadiri oleh sekitar 120 orang peserta. Beberapa tokoh nasional turut hadir untuk memberikan opening speech dalam kegiatan ini, diantaranya Prof. Dr. K.H. Didin Hafidhuddin (Ketua BAZNAS pusat), Prof. Dr. Misri Gozan (Guru Besar UI bidang Biorefinery), dan Ibu Fahira Idris   (Ketua Umum Yayasan Gerakan Nasional Anti Miras).

pic1

Prof. Dr. K.H Didin Hafidhuddin, Prof. Dr. Ing. Misri Gozan, dan Ibu Fahira Idris memberikan dorongan dan semangat bagi kami, para pemuda ini untuk tidak patah arang dan terus bergerak membawa arus perubahan. Dalam pidatonya, Prof. Dr. K.H Didin Hafidhuddin berpesan agar kami mengeksplorasi 5 hal yang menjadi potensi umat Islam: ajaran Islam, sumber daya manusia, sumber daya alam, sejarah, dan pertolongan Allah SWT.

pic2

Prof. Dr. Ing. Misri Gozan dengan semangatnya yang luar biasa tidak malu bercerita tentang masa muda beliau yang harus berjualan kerupuk dan kecap, beliau berpesan agar kami tidak malu dengan identitas keislaman kami. “Inilah saatnya kita bergerak!” ucap beliau ketika mengisahkan kehidupan beliau semasa kuliah di Jerman pasca peristiwa 11 September 2001. Luar biasa.

pic3

Dengan sosok keibuannya, Ibu Fahira Idris dalam pidatonya mengapresiasi acara ini dengan luar biasa. Bahkan, beliau mengirimkan karangan bunga sebagai sebuah bentuk apresiasi bagi acara ini. Dalam pidatonya beliau berpesan agar anak muda tidak hanya berprestasi di dalam kelas, tetapi juga berorganisasi. Karena, kata beliau, “Dari berorganisasilah saya belajar empati dan simpati yang berguna bagi berbagai kegiatan sosial saya sekarang ini”. Di penghujung pidatonya, beliau berpesan, “Sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan dan sebaik-baik amal adalah keikhlasan yang menyertainya”.

pic4h

Sajian  utama dari acara ini  adalah Talkshow bertemakan “Saya Pemuda Muslim Membangun Indonesia” bersama para tokoh-tokoh muda berprestasi diantaranya Erianti Rusydina Edward (alumni program pertukaran mahasiswa ke  Kanada dan Korea), Davrina Rianda (Pemimpin Redaksi Media Aesculapius—Lembaga Pers FKUI—, Hijaber berprestasi), Meilisa Rachmawati (Mahasiswa berprestasi FKG UI), Maulana Rosyadi (Mantan Ketua BEM FKUI), Dera Hafiyyan (Mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Elektro-ITB, Technopreneur muda), Egar Putera Bahtera (Entrepreneur muda, Founder of Chevalier Store), Renatha Febrianthi (Aktivis Anak jalanan, Hukum UGM), Ghulam Azzam Robbani (Pengajar Al-Quran di Abata Excellent Islamic School, Quranpreneur), dan Agastya Harjunadhi (Sekjen Young Islamic Leader).

Mereka berbagi berbagai kisah, pengalaman, serta gagasan yang sangat menginspirasi dan memotivasi peserta. Terbukti ketika dibuka sesi tanya jawab, hampir seluruh peserta mengangkat tangan dan ingin mengajukan pertanyaan karena  begitu antusiasnya. Acara ini juga dimanfaatkan untuk membaca “Ikrar Pemuda Muslim Membangun Negeri” dipimpin oleh Ghulam Azzam Robbani selaku ketua panitia dan diikuti oleh seluruh peserta seminar secara serempak.

pic7b

Selain itu ada juga hiburan musik religi membawa  lagu “This is Islam” yang menyampaikan salah satu pesan dari acara ini yaitu Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Acara ditutup dengan buka puasa bersama. Namun bagi peserta yang masih bisa melanjutkan, acara disambung  dengan sholat maghrib, sholat isya, tausyiah, serta doa bersama, dipimpin oleh Ust. Sigit Pranowo, Lc, Al-Hafidz.

Pemuda Muslim Membangun Negeri

July 7, 2013 § Leave a comment

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…”

Q.S 3 [Al-Imron]: 110

Ini adalah janji Allah sejak lama yang tertuang di dalam kitab suci kita, Al-Quran. Saya tak tahu apakah baru kali ini kita mendengarnya , semoga Al-Quran tidak hanya menjadi pajangan di pojok rumah kita dan semoga bagi kita yang telah sering mendengarnya, ini menjadi sebuah renungan bagi kita, janji Allah adalah benar dan pasti, tetapi seharusnya kita bertanya, mengapa sampai saat ini kita, umat Islam masih saja terpuruk dan menjadi “budak” permainan para musuh Islam. Disadari atau tidak, faktanya berkata demikian. Di hampir semua bidang, kita terpuruk, ekonomi, sosial, politik, hukum, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Belum lagi kita, umat Islam, dihadapkan sejumlah persoalan, mulai dari orang munafik [mengaku pembela Islam, nyatanya penghancur], dan belum lagi berbagai persoalan aliran sesat yang menjalar  di seantero dunia, mengaku Islam, tetapi ajarannya menyimpangkan Islam, semisal Syiah, Ahmadiyah, LDII, dan sejenisnya.

Parahnya, kesemua hal itu, terjadi di negeri kita, Indonesia, penduduk berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Yang mengirimkan jamaah haji paling banyak ketika musim haji, yang mempunyai potensi alam terbesar di dunia, yang mempunyai penduduk yang termasuk 5 besar paling banyak di dunia. Mulai dari emas, tambang, minyak, batu bara, hasil perkebunan, peternakan, laut, dan segala macam potensi lainnya. Jumlah manusia yang begitu banyak, pintar. Banyak anak pribumi yang berprestasi di luar negeri, dihargai keilmuannya, dikagumi kontribusinya, sayangnya, itu di luar negeri, bukan di dalam negeri kita, Indonesia.

Yang menjadi pertanyaan, apakah kita sebagai muslim Indonesia, kesal, marah? Saya khawatir, sensitivitas kita terhadap persoalan bangsa ini masih dalam kadar rendah. Biasa saja. Mau diapakan? Toh, itu urusan para pemimpin kita yang sebenarnya, negeri ini auto pilot. Jika kita tidak punya rasa kesal dan marah, apalagi jika diminta berbuat dan berkontribusi untuk negeri ini.

Selayaknya, kita malu dengan kondisi negeri ini, apalagi negeri ini membawa nama Islam! Tetapi paling juara dalam korupsinya, kemiskinannya, dan juga terbelakang dalam pendidikannya. Juga dikenal sebagai negeri pengirim tenaga kerja rendahan ke berbagai negera. Apakah kita tidak kesal dan marah? Sebagai muslim dan sebagai anak pribumi asli Indonesia?

Saya bukanlah siapa-siapa, hanyalah anak muda yang di bulan Agustus nanti insya Allah akan berumur 22 tahun, belum memiliki pengalaman dan keilmuan segudang yang dimiliki para pemimpin dan wakil rakyat kita di Istana Negara dan Senayan sana.

Namun, saya sangat kesal dan sangat marah dengan kondisi negeri Saya, Indonesia. Saya hanya ingin mengajak berpikir tentang kondisi negeri ini, ini negeri kita, yang porak poranda. Layaknya peribahasa mengatakan, “Tikus mati di lumbung padi” yang tak bisa berbuat apa-apa dengan potensi negerinya. Atau kita yang tidak menyadari potensi negeri kita, “Gajah di pelupuk mata kelihatan, semut di ujung pulau kelihatan”. Mungkin karena terlalu asyik berkaca ke luar negeri, tetapi lupa potensi negeri sendiri.

Melalui tulisan ini, Saya mengajak kepada rekan-rekan pembaca semua, untuk kesal, untuk marah, dan menyalurkan kesemua kekesalan itu untuk menjadi motivasi dan semangat besar untuk berkontribusi positif dan mengubah kondisi negeri kita yang sedari lama belum mampu juga menunjukkan tajinya di kancah dunia.

Saat ini, Saya bersama rekan-rekan dari berbagai universitas tengah membuat acara bertajuk Seminar Pemuda Muslim Membangun Negeri”yang menghadirkan para pemuda dan pemudi muslim berprestasi yang mereka ingin peduli dan memberikan inspirasi bagi para khalayak luas, terutama para adik-adik dan kawan-kawan mereka, para pemuda. Kami ingin membuncahkan semangat optimisme, semangat untuk berubah menjadi lebih baik. Acara ini insya Allah akan diadakan di SMESCO Convention Hall, Lt. 2 SME Tower pada hari di bulan Al-Quran, bulan yang penuh ampunan, bulan Ramadhan!, tepatnya Ahad, 14 Juli 2013.

Sebagian kawan mengatakan bahwa acara ini terlalu mewah, karena, perkiraan kami, acara ini membutuhkan dana sekitar Rp 100.000.000, tetapi saya memahaminya sebagai sebuah acara yang kami berusaha menunjukkan bahwa Islam tidak selalu identik dengan kemiskinan, ketertinggalan ekonomi, dan tidak mampu membuat acara yang profesional, rapi, dan baik. Kami para pemuda muslim ingin menepis dan membungkam hal itu.

Jika berbicara banyak hal yang bisa dilakukan dengan uang sebanyak itu, memang benar adanya, maka acara ini tidak akan habis sehari di sana, seminar ini hanyalah acara yang menjadi momentum kebangkitan yang akan memberikan impact seketika bagi para peserta, karena di dalamnya akan ada deklarasi organisasi PMMN (Pemuda Muslim Membangun Negeri) yang akan memberikan output dan outcome ke depan bagi rakyat Indonesia pada umumnya.

Struktur organisasi ini telah disiapkan dengan anggota bermaterikan para pemuda muslim terbaik dan berprestasi di bidangnya, yang insya Allah akan berusaha berkontribusi dalam berbagai bidang, jurnalistik, kewirausahaan, pemikiran Islam, pendidikan, kepemimpinan, dan berbagai hal lainnya, karena insya Allah dengan para punggawa berprestasi, akan ada banyak hal luar biasa bermanfaat yang dapat dilakukan. Maka, dana sebesar itu tidak akan habis seketika. Lagipula, 70% alokasi dana adalah untuk tempat [40%] dan konsumsi peserta [30%].

Dengan harga tiket “hanya” Rp 15.000 [early bird s.d 30 Juni ‘13], Rp 20.000 [normal], dan Rp 25.000 [On The Spot]. Kami berusaha memberikan tempat terbaik, konsumsi terbaik, pembicara muda terbaik, dan acara terbaik yang juga akan diisi dengan sholat maghrib, isya, dan tarawih berjamaah diselingi dengan tausiyah ramadhan dan ditutup dengan doa bersama bagi keberkahan dan kemajuan negeri kita, Indonesia.

Maka, mari kita berkumpul dan satukan kekuatan untuk kebangkitan Islam! Bukanlah jumlah yang kami kejar, tetapi kualitas dan visi acara ini, namun dengan kuantitas peserta yang dapat terkumpul banyak, tentunya akan memeriahkan acara yang kami harap berkah ini, target kami, 1000 peserta dapat hadir guna mendapatkan manfaat dari acara ini. Lebih lengkapnya, kunjungi official website kami:pemudamuslim.org, Facebook Fan Page: Pemuda Muslim Membangun Negeri, dan twitter:@MuslimMembangun.

Salam Perjuangan!

 

Ghulam Azzam Robbani

Project Officer SPMMN 2013

Film Ainun-Habibie: Kritik, Hikmah, dan Sebuah Optimisme Pembangunan

May 30, 2013 § Leave a comment

Baiklah, film ini memang overall luar biasa bagus, bagaimana kisah percintaan seorang laki bernama Habibie yang menunjukkan kesetiaan dan kasih saying kepada istrinya, Ainun. Begitu pula sebaliknya, Ainun, sang istri sampai rela mengorbankan kesehatannya bagi tugas suami yang begitu menyita waktu. Ia menyembunyikan penyakitnya karena khawatir akan mengganggu pikiran suaminya. Pengorbanan yang dilakukannya berakibat fatal, kanker ovarium yang dideritanya sudah kadung parah dan menjalar. Pengobatan dari dokter dan teknologi terbaik dari Jerman belum mampu menjawab harapan sang suami, Habibie yang jenius itu.

Film ini juga cukup mengundang decak kagum, bagi saya pribadi, terutama pemeran Habibe, Reza Rahardian, yang berusaha semirip mungkin kental dengan karakter Habibie. Lucu dan luar biasa sekali meskipun bagi Pak Habibie pribadi, masih mengritik karakternya dalam film yang dikatakan, “Itu masih kikuk dan kaku”. Kalau sudah Pak Habibie yang berkomentar, apa mau dikata, toh beliau adalah sosok aslinya. :)

Banyak sekali nilai-nilai yang bisa diambil bagi anak muda dalam film itu guna menjalani bahtera pernikahan. Sebagai sosok manusia yang jenius, yang biasanya jenius itu identik dengn kaku, tidak bisa bergaul, dan egois, Habibie menampilkan sosok jenius yang berbeda, ia tampil apa adanya dengan karakternya, disenangi banyak orang, dan mengedepankan kepentingan bangsa, pun dengan sang istri, Ainun.

Akan tetapi, ada hal-hal pula yang patut dikritisi dalam film itu, sebagai seorang muslim, setidaknya ada 3 hal yang bagi saya tak perlu dilakukan seorang Habibie jenius yang dalam film itu, karakternya sarat dengan nilai keagamaan.

1. Pacaran dalam Islam

Pacaran, yang menjadi fenomena anak muda zaman sekarang, ditampilkan sebagai suatu kebiasaan anak muda, yang, fine-fine saja selama tidak berujung kepada seks bebas. Dalam film, ditunjukkan bagaimana Habibie berdansa, berpegangan tangan, dan berciuman tanpa “beban”. Padahal, ya, saya yakin, Pak Habibie sesungguhnya mengetahui bahwa Islam tidak mengajarkan hal tersebut. Artinya, Habibie melanggar ajaran yang dia anut. Agak aneh bagi seorang jenius Pak Habibie dalam kehidupan sebenarnya.

Karena, konsep pacaran dalam Islam, ya, setelah menikah. Barulah halal, hal-hal semacam berpegangan tangan, berduaan di ruang tertutup, dan segala jenis hubungan.

2. Masalah Adat

Saya tahu, Indonesia sebagai suatu negara dengan berbagai budaya dengan cita rasa tinggi begitu sayang jika tidak di-explore. Berbicara kesenian dan adat Indonesia, akan ada banyak pro dan kontra jika dikaitkan dengan nilai aqidah, akhlaq, dan antipornografi.

Di sinilah, sebagai seorang muslim yang harus yakin dengan kebenaran ajaran Islam, harus mengedepankan keyakinan untuk meninggalkan segala adat yang bertentangan dengan nilai Islam yang tentunya bersumber dari Al-Quran.

Dalam film Ainun-Habibie, sang mempelai pria melakukan lempar kertas (dilenting seperti rokok) yang sangat kental dengan kesyirikan. Kepercayaan bahwa hal tersebut akan mendatangkan keberkahan dan kelanggengan adalah suatu hal yang absurd! Mengingat, muslim mempunyai Allah SWT sebagai maha pemberi rezeki, maha kaya, dan maha-maha yang lainnya! yang tidak dimiliki zat apapun, apalagi hanya seonggok kertas!

Inilah nilai yang sangat patut dikritisi oleh para pasangan yang akan menikah. Adat boleh, tetapi jika melawan ajaran Islam, tinggalkan!

3. Hijab

Sangat disayangkan, Ibu Ainun sebagai sosok muslimah cerdas dan berbudi pekerti tinggi menanggalkan hijabnya. Sekali lagi, sangat disayangkan. Sebagai public figure dan lagi sebagai seorang muslimah, hal ini menjadi catatan besar bagi saya pribadi yang memang mengagumi kedua tokoh ini. Pak Habibie dan Ibu Ainun.

Romantisme dan keteladanan sebagai suami istri, pengertian, saling memahami, pengorbanan, komunikasi yang efektif, bertenggang rasa adalah nilai-nilai positif yang patut ditiru dan dicontoh oleh pasangan muda di manapun dalam membangun mahligai rumah tangga. Hal ini menjadi “wajib” hukumnya guna menjadi pasangan ideal bagi sesama dan membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah dalam kerangka kasih sayang dan kemuliaan ajaran Islam.

Di awal film, kesabaran Ibu Ainun yang tidak mendewakan materi sebagai tujuan berkeluarga, kesederhanaan dan mau sama-sama hidup susah adalah hal yang sulit ditemukan dalam tujuan berkeluarga di dunia dan Indonesia pada khususnya.

Bagi saya, puncak dari film ini, manakala penyakit Ibu Ainun terungkap dan sudah parah, kanker ovarium stadium 4. Terlihat sekali kecintaan Pak Habibie kepada Ibu Ainun yang begitu membara, sampai-sampai harus mengorbankan ketahanan tubuh Ibu Ainun hingga operasi ke-9.

Patut menjadi perhatian, keyakinan Pak Habibie yang terlalu mengandalkan teknologi dan keahlian dokter. Dalam film, tak pernah terlihat ketika Pak Habibie memanjatkan doa bagi kesembuhan Ibu Ainun. Saya tak tahu, apakah dalam realitanya, fakta ini benar adanya. Karena, di atas kecanggihan teknologi pengobatan saat ini dan keahlian para dokter, masih ada yang lebih berkuasa atas kesembuhan seorang anak adam. Allah SWT yang menguasai jagat raya dan menghidupkan serta mematikan makhluknya.

Sebagai penutup, walaupun scene ini berada di tengah-tengah film, sakit hatinya Pak Habibie yang jenius ini karena “diketekin” politikus dan penguasa tamak lagi korup menjadi tragedi besar bagi bangsa Indonesia. Padahal, dengan visi dan cita-cita besar yang luar biasa, yang direaliasikan dengan dibentuknya IPTN dan banyaknya putra-putra bangsa yang telah bersekolah di luar negeri dan mau kembali untuk membangun Indonesia, sayangnya, mereka tidak dihargai!. Lagi-lagi politikus dan penguasa korup berulah dan membendung kedigdayaan Indonesia.

Akhir kata, kepada para generasi muda dan pemimpin masa depan, camkanlah pentingnya orientasi dan visi akhirat dalam membangun peradaban manusia. Viva Islam dan Indonesia!

 

Harga Nilai Moral

May 29, 2013 § Leave a comment

Oleh Haedar Nashir

Sebut dia Madonna. Nama lengkapnya Madonna Luise Ciccone, usia 54 tahun. Aktris kelahiran Michigan, Amerika Serikat, ini sangat digemari. Ia sangat popular dan dijuluki Ratu Pop tersukses sepanjang masa dalam rilis Guinness World of Records. Namanya bahkan diabadikan di Museum Rock and Roll Hall of Fame.

Penggemar Madonna tersebar di seluruh negara. Penjualan rekaman musiknya mencapai lebih dari 300 juta kopi. Majalah Billboard 2008 memeringkat Madonna di nomor dua setelah the Beatles dalam daftar Billboard Hot 100 All-Time Top Artists, yang menjadikannya sebagai penyanyi solo yang merajai sejarah tangga lagu di Negeri Paman Sam. Penampilannya selalu sensasional.

Namun, dari sisi moral, kepopuleran Madonna memiliki arti lain. Dia digemari publik sedunia karena penampilannya yang serbapanas. Atraksinya di panggung sering kali liar. Penyanyi seksi yang satu ini pernah memegang bagian paling terlarang dari tubuhnya di atas panggung. Bahkan, ia berani melepas celana bagian paling aurat di atas pentas, kemudian melemparkannya ke arah penonton. Penggemarnya terkesima dan larut dalam histeria.

Boleh jadi perangai yang serbabinal itulah yang menjadikan aktris ini popular di mata penggemarnya. Sama dengan penampilan seronok Christina Aguilerra, Cheryl Cole, Beyonce, Jessie J, Katy Perry, Lady Gaga, Miley Cyrus, Rita Ora, dan Rihanna ketika pentas, yang membuat pendukung fanatiknya mengalami kegilaan. Para penggemar sosok-sosok sensasi panggung ini sangat fanatik buta hingga mati nalar sehatnya. Inilah wajah dunia popular yang memesona anak cucu adam di muka bumi.

Racun duniawi

Ali bin Abi Thalib pernah menulis surat kepada Salman Al-Farisi, sahabat yang dianggapnya  sebagai keluarga. Kata Ali, “Wahai Salman, kehidupan dunia itu sepreti ular, lembut diraba, tetapi berbisa.”

Ali selain dikenal berilmu tinggi, juga sosok zahid. Dia jauh dari gemerlap duniawi, seperti harta, tahta, dan wanita. Dia bersahaja, bahkan demi kebenaran tidak mau bermain transaksi kekuasaan yang menyebabkannya dijauhi mereka yang menginginkan jabatan. Ali tahu kesenangan berlebih atas pesona dunia akan menyebabkan orang mudah dimakan dunia dan lupa hakikat hidup.

Racun dunia dapat menyebabkan lumpuhnya kesasaran ruhaniah manusia sekalipun mereka yang beriman dan berilmu agama. [Q.S Ali Imran (3): 14]. Meski begitu, masih banyak orang lalai dan akhirnya terjerumus dalam keindahan duniawi yang semu.

Maka, tak perlu heran dalam menganggap fiksi manakala ada orang-orang beriman dan berilmu agama tinggi jatuh diri pada gelimang dunia yang serbainderwai, lalu tersesat jalan dalam beragam bentuk penyimpangan moral, iman, dan ilmunya tidak autentik [fitri] serta gagal mengekang dan menyinari dirinya dari hawa nafsu yang serbamenyenangkan itu.

Formal mereka sarat dengan aksesori agama, tetapi jiwanya kosong dan perilakunya rapuh. Mereka secara kejiwaan menderita sakit anomi, melakukan hal-hal buruk karena lompatan hidup yang mencerabut dirinya. Pada saat seperti itu, mata hati ruhaniahnya jadi mati (Q.S Al-An’am [6]: 122). Ketika nurani mati, moral pun akhirnya rapuh.

Dunia bagi orang beriman sungguh memerlukan fondasi moral yang berbasis pada tauhid dan akhlak mulia. Pilihan moralitas itu sungguh penting untuk dijadikan rujukan oleh siapa pun yang menggelorakan kebenaran. Lebih-lebih kebenaran ajaran agama yang menjadi misi Nabi akhir zaman yang diutus allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Dunia dalam ranah apa pun, termasuk politik, manakala tanpa moral, akan serba liar dan jatuh pada ketakberadaban. Dari luar tampak bersih, tetapi di dalamnya kumuh dan seronok

Bagi orang beriman, nilai moral itu pasti, tidak abu-abu. Patokan moral utama membimbing jiwa siapapun agar hidup tetap dalam berada di jalan yang benar [al-haqq] dan menjauhi jalan yang salah [al-bathil]. Melaksanakan yang baik [al-khayr, al-ma’ruf] dan mencegah diri dari yang serbaburuk [al-munkarat]. Menepati perilaku yang mulia [al-akhlaq al-karimah] dan menghindari perangai yang tercela [al-akhlaq al-mazhmumah]. Dunia berbasis moral utama pasti akan selamat, damai, dan beradab.

Kebenaran Moral

Jangan tanyakan nilai moral utama pada opini publik. Moral berbasis nilai-nilai ilahi tak berkaitan dengan selera dan dukungan massa. Penggemar Lady Gaga ketika hendak konser di Indonesia sangat banyak. Mereka membela mati-matian dan mengalami histeria.

Ketika akhirnya sang penyanyi sensasional itu gagal datang ke negeri Muslim terbesar ini, di antara pendukung setianya bahkan tak mau menukarkan tiketnya yang telah dibelinya dengan sangat mahal demi si Gaga. Moralitas yang dianut serbapermisif, apa saja boleh.

Dalam ranah diri manusia, tatkala nafsu fuzara [buruk] mengalahkan ruhani muttaqa [baik] maka siapa pun akan jatuh diri pada demoralisasi. Itulah ranah akhlak yang tidak ada hubungannya dengan selera maupun dukungan publik.

Betapa riskan mengaitkan demoralisasi dalam bentuk apa pun dengan dukungan massa. Jangan pula diukur dengan obligasi olitik yang disangga perilaku taklid buta dalam mengikuti standar moral. Nanti terjebak pada Madonnamania, baik atau buruk yang penting memuja Madonna.

Dalam kebenaran moral yang menjadi misi Nabi akhir zaman sungguh tak demokrasi, kecuali pada moral situasional yang berlaku di masyarakat yang tersekulerisasikan secara masif.

Kebiasaan buruk seperti korupsi dapat berubah menjadi “budaya” ketika makin banyak orang mereguk harta di jalan haram, sedangkan mereka yang jujur dan bersih menjadi terasing. Sementara, para penegak kebenaran moral yang jujur menghadapi banyak musuh dari mereka yang korup dan membenarkan penyimpangan dalam beragam dalil.

Maka, harga moralitas yang utama memang mahal. Ia tak dapat dipertukarkan dengan demokrasi atau apa pun yang sifatnya relatif dan situasional. Kini, tinggal menguji kejujuran siapa pun yang masih menyimpan nurani kebenaran iman.

Kebenaran moral sungguh tak dapat diukur oleh mereka yang lalai hidup maupun selera publik yang nalar sehatnya mati suri. Sebab, mata hatinya yang jernih telah terkunci.

Being Muslim: Why, How, and What? [Habis]

May 29, 2013 § Leave a comment

Sebelum beranjak kepada ayat-ayat dan dalil yang menghampar dalam mushaf Al-Quran, ada baiknya kita merenungi wahyu pertama dalam shiroh nabawiyah, ketika itu, bagaimana Rosulullah yang berasal dari kaum yang buta huruf dan tidak dapat membaca, kemudian mendapatkan wahyu.

Malaikat mendatangi beliau seraya berkata, “Bacalah!”

Berikut ini penuturan beliau, “Aku tidak bisa membaca.”

Dia (malaikat Jibril) memegangiku dan merangkulku hingga aku merasa sesak. Kemudian melepaskanku, seraya berkata lagi, “Bacalah!”

Aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

Dia memegangiku dan merangkulku hingga ketiga kalinya hingga aku merasa sesak, kemudian melepaskaku, lalu berkata,

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan al-qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

(Q.S Al-Alaq [96]: 1-5)

Sebagian orang mengatakan, Al-Quran adalah pemikiran Muhammad SAW, Al-Quran adalah makhluq dan bukan Kalam Allah. Ini adalah sebuah pemikiran keliru, kesalahan besar. Jelas, dalam berbagai literatur sejarah, Rosulullah SAW yang tidak membaca itu tidak dapat membaca wahyu ketika beliau mendapatkannya dari Malaikat Jibril. Bagaimana mungkin beliau dapat membuat Al-Quran?

Sejarah mencatat, seorang Imam agung dan mulia, Imam Ahmad bin Hambal di zaman khalifah Al-Makmun mendapatkan berbagai penyiksaan ketika beliau begitu keuhkueh melawan pemikiran sang khalifah yang ketika itu mengatakan Al-Quran adalah makhluq.

Beliau dengan tegas dan berdiri lantang mengatakan Al-Quran adalah kalam Allah. Sikap tegasnya inilah yang salah satunya membuat diri beliau dikenang sepanjang masa sebagai salah satu Imam Madzhab paling disegani sepanjang masa. Suatu hal yang sangat sulit ditemukan dalam sosok ulama hari ini.

Karena, salah satu argumentasi dari Al-Quran bukan makhluq adalah ketiadacacatan dalam Al-Quran. Sebagai makhluk, tentunya ada kekurangan, kekeliruan dan tidak demikian dengan Al-Quran.

Beranjak kepada ayat ke-2 surat Al-Baqoroh yang demikian meyakinkan.

Inilah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya”.

Ayat yang menunjukkan keyakinan, ketidaksedikitpun keraguan menghampiri pencipta, pembuat, dan pemilik serentetan kalimat dan kata selanjutnya di enam ratus halaman berikutnya. Yang, jika manusia adalah pembuatnya, dan begitulah manusia, pasti dan selalu mengakui kekurangan dalam setiap kata pengantar ataupun prolog dalam bagian-bagian awal dari suatu buku. “Saran dan kritik akan menjadi masukan yang berharga bagi penulis ke depan.” Namun, lagi, tidak demikian dengan Al-Quran.

Dunia menyaksikan, hingga detik ini, tak ada satupun kitab suci yang dapat dihafal oleh begitu banyak orang di seluruh dunia, dengan berbagai latar belakang ras, suku, bahasa, karakter, dan umur. Ratusan bahkan ribuan penghafal Al-Quran tersebar di seluruh dunia!

Mulai dari anak kecil hingga seorang nenek tua dapat menghafal sebagian, bahkan seluruh Al-Quran dengan tata cara baca, yang dikenal dengan tajwid dan waqaf (tanda berhentinya). Belum lagi, bagaimana terbentuknya sistem sanad yang menyambung kepada Rosulullah SAW sebagai suatu sistem penjagaan kemurnian dan tata cara baca Al-Quran sebagai bukti terjaganya Al-Quran.

Sebagaimana Allah telah berjanji dalam firman-Nya, Q.S 15 [Al-Hijr]: 9

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.

Di bagian bawah footnotenya, dijelaskan,

“Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al-Quran selama-lamanya”.

Juga, hal inilah yang membedakan keotentikan Al-Quran dari masa ke masa. Al-Quran adalah Kalam Allah, bukan buatan manusia yang bisa tergerus zaman!. Maka, tak ada cerita jika Al-Quran kuno dan lusuh dimakan zaman.

Ditambah lagi dengan ditemukannya berbagai manuskrip Al-Quran oleh Dr. Musthafa Al-A’dzomi seorang doktor lulusan Universitas Cambridge, London. Yang, jika dikaitkan degan sejarah pembukuan Al-Quran yang gagasannya dimulai sejak zaman Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan diselesaikan oleh Khalifah Utsman bin Affan sehingga dikenal dengan nama mushaf utsmani, tentunya telah melewati serangkaian seleksi yang ketat. Karena, hal ini dilakukan oleh generasi terbaik sepanjang masa sejarah peradaban manusia!. Generasi sahabat Rosulullah SAW.

Inilah yang menjadi sebuah alasan, why tentang Al-Quran sebagai sumber pertama dan utama dalam pengambilan hukum Islam yang menjadi sebuah arahan, pedoman, dan petunjuk bagi muslim sedunia.

Kemudian, Allah menurunkan Al-Quran sebagai sebuah petunjuk dan pedoman kesuksesan di dunia yang mengantarkan kesuksesan akhirat. Akhirat sebagai sebuah orientasi akhir dari perjalanan hidup. Sebagai sebuah guidance, how to succeed in the ad-dunyaa wal aakhiroh dengan berbagai tanda-tanda, rambu, larangan, hal yang diperbolehkan di dalam Al-Quran. Yang pada akhirnya, Al-Quran bukanlah sebatas kalimat sastra yang hanya terbatas untuk dihafal, namun juga ditadabburi, dipahami, dan diamalkan. Sebagaimana Sayyid Qutb mengatakan dalam bukunya yang fenomenal, Ma’alim Fit Thoriq (Petunjuk Jalan).

Al-Quran tidak datang untuk sekadar menjadi hiburan otak, ia bukan kitab sastra atau seni, dan bukan pula sebuah kita kisah atau sejarah, meskipun semua itu terkandung dalam isinya, namun ia datang agar menjadi manhaj kehidupan”

Akhir kata, berlanjut kepada what, apa yang menjadi ciri khas Al-Quran? Kedalaman bahasa, kesempurnaan bahasa, dan ketiadahabisan ilmu yang berada di dalam Al-Quran untuk terus dikaji dan didalami. Bagaimana para ‘ulama mengatakan bahwa Al-Quran bagaikan samudera ilmu yang tiada habisnya untuk terus dikaji dan dipelajari. Tak cukup berjilid-jilid tafsir untuk menjelaskan kemuliaan Al-Quran. Tafsir Fi Dzilal yang ditulis oleh Sayyid Quthb, kemudian Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ath-thobari, Tafsir Al-Azhar yang ditulis oleh ulama terkenal asal Indonesia, Buya Hamka, dan berbagai tafsir yang bertebaran untuk mengupas keajaiban Al-Quran.

Bagaimana pula, Allah menantang siapa saja yang berusaha menyama-nyamakan Al-Quran dan menirunya,

Q.S [2] Al-Baqoroh: 23

Dan jika kamu (tetap) meragukan Al-Qur’an yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah (paling tidak) satu surah saja yang semisal dengan Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah (untuk melakukan hal itu), jika kamu orang-orang yang benar”

Wallaahu A’lam Bisshowaab.

Being Muslim: Why, How, and What? [2]

May 29, 2013 § Leave a comment

Bagi kita, Indonesia, menjadi muslim adalah hal biasa, tidak terlalu penting (karena kita mayoritas, tidak terlalu ada intervensi dalam arti gesekan fisik dan pemerintahan yang represif, masjid di mana-mana, dan secara umum Islam—boleh dikatakan, walaupun dengan berbagai serangan pemikiran—masih dapat (cukup sedikit) berdiri tegak dalam beberapa sisi dari konsep kesempurnaan Islam).

Fitrahnya, memang, manusa dilahirkan ke dunia dalam keadaan suci, Allah berfirman dalam

Q.S 7 [Al-A’raf]: 172

 “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya beriman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).

Dalam tafsir Fi Dzilalil Quran, dijelaskan,

Ia (keturunan anak-anak Adam) mengakui rububiyah Allah SWT, mengakui ‘ubudiyah kepada-Nya, bersaksi akan keesaan-Nya. Ia tersebar seperti benih, dan terkumpul dalam genggaman Maha Pencipta Yang Maha Agung!. Itulah pemandangan alam kosmik yang indah dan mengagumkan. Tidak ada bahasa manusia yang dapat menemukan padanannya dalam gambaran-gambarannya yang ma’tsur (berasal dari Tuhan) ini.”

Lanjut beliau,

“Mengenai bagaimana peristiwa ini terjadi, mengenai bagaimana Allah mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, mengenai bagaimana Allah berbicara kepada mereka, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” dan bagaimana mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan Kami), kami menjadi saksi”… Jawabannya adalah bahwa cara-cara tentang perbuatan Allah SWT merupakan perkara ghaib, sama seperti Dzat-Nya. Nalar manusia tidak mampu mengetahui cara-cara bagaimana perbuatan Allah itu berlangsung. Tidak ada pilihan kecuali harus mempercayai kejadiannya, tanpa berusaha mengetahui caranya.”

Artinya, memang demikian, bayi yang lahir ke dunia adalah seorang muslim. Semua bayi yang lahir ke dunia ini telah fitrah, suci. Sebagaimana mungilnya dan lucunya bayi yang lahir. Subhanallah.

Namun, yang menentukan agamanya di dunia adalah orang tuanya, dalam kitab ash-shahihain, Rosulullah SAW bersabda

“ Setiap bayi dilahirkan menurut fitrah. Lalu kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi. Sebagaimana bayi binatang dilahirkan dalam keadaan baik ciptaan dan organ-organnya. Apakah kalian menemukan padanya terpotong hidungnya atau telinganya atau organ tubuh lainnya?”

[Shahih, diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi]

Imam Al-Hafidz Ibnu Katsir juga menjelaskan,

Ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa yang dimaksud dengan pengambilan sumpah adalah Allah memberi mereka fitrah tauhid.” 

Begitulah, hal yang terjadi di belahan dunia lain, termasuk Indonesia, ketika sebagian bayi-bayi suci itu lahir kemudian agamanya menjadi Kristen, Ahmadiyah, Syiah, dan lain halnya. Beranjak dewasa, dan saya rasa hal ini pernah kita alami bersama, ia akan mencari-cari sesuatu, atau sering kita kenal istilah pencarian jati diri.

Sebetulnya, karakter atau akhlaq kita seperti apa seharusnya, siapa kita, apakah hidup di dunia ini hanya sekadar mencari uang, kepada siapakah kita bersandar dan menyadarka diri? Kepintaran kitakah, kejeniusan kita, kekayaan orang tua kita. Dan berbagai macam pertanyaan lainnya yang menjadi pemikiran seorang pencari kebenaran.

Dan, sejarah mencatat, di tengah kehidupan bangsa arab yang sedemikian jahiliah, budaya mabuk-mabukan, anak perempuan yang lahir menjadi aib dan kemudian dikubur hidup-hidup, fanatisme terhadap ras dan kabilah (kelompok kesukuan) yang berlebihan begitu mendarah daging dan menjadi penyebab peperangan antarkabilah adalah sekelumit sejarah kelam bangsa arab sebelum Islam itu datang. Kesemua contoh di atas sedikit banyak telah menjadi fenomena yang menjadi nyata hari-hari ini, di sekitar kita, di tengah-tengah kehidupan kita.

Berapa banyak berita pembunuhan, penculikan, dan pemerkosaan menghiasi berita media elektronik dan media cetak. Belum pula korupsi, perang, dan tindak pidana lainnya. Umat manusia membutuhkan sesuatu, arahan, pedoman, dan petunjuk bagi kehidupannya.

Di tengah kejahiliahan itulah, Islam muncul, menjawab berbagai fenomena kejahiliahan itu, bukan seperti membalikkan telapak tangan, tetapi membutuhkan waktu sekitar 23 tahun bagi seorang manusia terbaik dan mulia, Muhammad SAW, menjawab tantangan yang sedemikian besar dan nyata itu.

Dengan berbagai macam dan jenis pengorbanan yang telah dilakukan beliau, dikatakan orang gila, dicaci maki, dilempar kotoran, diboikot dengan hanya memakan dedaunan, diperangi, dan berbagai bentuk teror lainnya. Sudahkah kita merefleksi hal ini?

Bagi orang barat, yang salah satu dosen saya pernah tinggal di Amerika mengatakan, “Mereka selalu berpikir, berani untuk mencoba, dan berusaha mencari kebenaran”. Alhamdulillah, berbagai fakta dan kisah tentang mereka yang menemukan kebenaran dalam Islam menunjukkan sebuah perubahan dalam kehidupannya dan pertumbuhan Islam di Barat begitu pesat.

Yusuf Islam, menjadi salah satu contoh, pemilik nama Cat Steven dengan berbagai prestasi di bidang musiknya, ditinggalkannya untuk Islam. Sebaliknya, setelah mengenal dan terus mempelajari Islam, ia mendakwahkan Islam dengan lagu-lagunya. Layaknya kisah sahabat nabi yang terkenal dengan kebengisan dan kekejamannya dahulu, Umar bin Khattab yang kemudian berubah sedemikian rupa. Sebelumnya, membenci dan menghina Islam kemudian menjelma menjadi salah satu tokoh besar dan paling berpengaruh dalam sejarah Islam, biidznillaah. Alhamdulillah.

Di sinilah, jika kita mau berpikir, Islam adalah satu-satunya agama yang benar, logis, dan menjawab berbagai pertanyaan kita. Mereka, orang Barat kebanyakan termakan penyesatan opini dan doktrin islamophobia. Nyatanya, when they know and understand Islam, mereka tersadar dan seolah menemukan, “This is what I have been looking for many years”.

Karenanya, Dr.Zakir Naik berkata,

If You want to study Islam, go study Islam. Don’t study the muslims. Islam is perfect, muslims are not.”

Sebagai muslim, pernahkah kita bertanya, “Kenapa saya harus memilih Islam sebagai diin, pedoman dan petunjuk hidup bagi saya?”.

Being Muslim: Why, How, and What? [1]

May 29, 2013 § Leave a comment

Pernahkah kita berpikir tentang, “Kenapa saya memilih barang ini?.” Seringkali mungkin hanya karena sebuah alasan tidak penting yang kita pribadi tidak mengetahuinya. Alasan yang tidak jelas juga, faktanya demikian. Mungkin hanya karena tertarik warnanya, desain, ataupun harganya yang kelewat murah.

Di antara sekian video di TED.com, situs yang berisi tentang video dari pembicara hebat dan terkenal di seluruh dunia itu, ada satu yang termasuk video favorit saya. Judulnya, “How Great Leaders Inspire Action”yang dibawakan oleh Simon Sinek.

Ia bercerita tentang kesuksesan apple, kesuksesan penemuan pesawat oleh Wright bersaudara, dan kegagalan salah satu tv dengan kecanggihan teknologinya. Simon, salah satu marketing gurus di dunia ini, menyampaikan, kesuksesan produk-produk di dunia bukanlah tentang kecanggihan teknologinya ataupun tentang murahnya harga sebuah produk.

Orang-orang di dunia membeli sesuatu bukan karena itu, tetapi melebihi hanya sekadar benda ataupun harga dari suatu produk. “Ini tentang why” ucapnya.

Ya, alasan ataupun filosofi dari sebuah produklah yang mendasarkan orang memilihnya. Layaknya apple, tengoklah film-film Amerika, kita akan dapati dalam setiap film bergenre Amerika, laptop yang digunakan dalam film adalah apple. Bukan Microsoft, IBM, Sony dengan Vaio-nya ataupun brand lainnya.

Bagi American, apple adalah inovasi dan bukti kreativitas seorang Steve Job yang digemari masyarakat Amerika. American memilih apple karena inovatif, kreatif, dan mutakhirnya sebuah produk apple. Jika berbicara harga, produk-produk apple termasuk cukup mahal. Harga termurahnya mungkin masih termasuk kelas menengah bagi produk smartphone lain. Kembali, It’s about why.

Demikian pula dengan Microsoft, jika apple dengan eksklusivitasnya mempunyai pasar tersendiri, begitu juga dengan Microsoft. Karena user friendly dan harga yang cukup murah, softwarenya tersebar di seluruh dunia, Indonesia, misalnya. Pengguna windows lebih banyak dibanding macintosh. Kalaupun ada, kalangan menengah ke atas lebih banyak yang menggunakannya (macintosh).

Contoh lainnya, saya pernah mengendarai mobil Suzuki SX-4 dan Isuzu Panther Grand Touring, keduanya sama-sama mobil. Akan tetapi, berbicara harga, keduanya berbeda jauh. Dilihat dari segi kapasitas pun, SX-4 hanya dapat menampung lima orang, Grand Touring bisa sampai delapan orang.

Bahan bakar, Grand Touring lebih irit, selain memakai solar, daya tampung yang lumayan besar juga menghemat pengeluaran. Cocok bagi keluarga dengan jumlah banyak.

Namun, dari segi kenyamanan pengemudi, SX-4 lebih baik. Misalnya saja, lampu sen, di SX-4, lampu sen terasa ringan dan nyaman ketika disentuh. Posisi tangan tidak perlu bergesar ketika menyalakan sen untuk berbelok. Adapun di Grand Touring, posisi tangan harus digeser agak ke depan untuk menyalakan sen. Tidak terlalu nyaman.

Contoh lainnya, di bagian depan SX-4, di atas persneling gigi, sudah tersedia lampu bagi pengemudi jika di malam hari ingin mengambil uang receh dan kertas ketika membayar tol.

Namun, tidak demikian di Grand Touring, lampu hanya terdapat di bagian tengah, dan tidak cukup menyinari ruang penyimpanan uang receh dan kertas. Sampai-sampai, kita harus membeli lampu tambahan untuk dipasang hanya sekadar memberikan kenyamanan.

Contoh di atas adalah hal-hal kecil yang dapat dikatakan sepele. Tetapi, justru sebuah perusahaan yang bagus dan inovatif sangat memperhatikan hal-hal kecil dan mendetail. Sebagaimana Pak Habibie pernah berkata, “The Evil is in the detail”. Karena, kenyamanan adalah salah satu aspek why yang menentukan pilihan bagi seseorang.

Begitu pula ketika seseorang memilih Garuda Indonesia, eksekutif dan pengusaha, yang (boleh dikatakan) kebanyakan duit di usianya itu, saya yakin akan lebih memilih Garuda ketika melaksanakan perjalanan bisnis ketimbang Lion Air ataupun Merpati. Karena, why? Garuda mempunyai pasar tersendiri, prestise dan kenyamanan serta layanan yang begitu so humble dan setengah memaksa agar penumpang merasa nyaman—agak secara berlebihanlah (cerita ini saya dapatkan di blog CEO XL Axiata, Pak Hasnul Suhaimi) yang kesemuanya adalah hal-hal abstrak dan detail itulah yang menjadi pembeda.

Barulah, ketika mendapatkan why, yang bagi saya adalah alasan memilih,

Kemudian, kita berbicara How, jika telah mendapatkan alasan kenapa kita memilihnya, bagaimana mewujudkan alasan, dan apa produk yang akan kita buat.

Dalam konteks mobil misalnya, para top manajemen bukanlah orang-orang teknis, biasanya mereka adalahideas maker dan genius conceptor, but, they know how to realize their dreams and visions. Mereka membutuhkan teknisi dan mekanik andal yang dapat merealisasikan why dan membuat what yang mereka inginkan. Begitulah, pemimpin bukanlah segalanya yang dapat merealisasikan semuanya, but pemimpin tahu mereka mau apa dan ke mana, dan ia mengumpulkan orang-orang terbaik untuk merealisasikan mimpi-mimpinya. The super leaders and super managers need their super teams!

Setelah mengetahui why and how, selanjutnya adalah diwujudkan dengan what, atau ciri khas kita apa atau dengan kata lain hal apa yang menjadi ciri khas dan orang lain tidak punya inilah semuanya berlanjut. Berangkat dari filosofi why, kemudian berlanjut kepada how to realize what we want, then, let’s reach our dream! Make something different we have. Something innovative, special, and amazing!

Seperti yang telah dikemukakan di atas, kenapa kita memilih SX-4? Karena mobil tersebut, yang tentu telah diwujudkan para mekanik andalnya (how), (why) ingin memberikan kenyamanan, diwujudkan (what) dalam kenyamanan lampu sennya, ruang yang cukup untuk meletakkan berbagai perabot seperti tempat minum di bagian pintu, lampu yang simple dan mudah ditekan di bagian atas perseneling gigi ketika membayar tol, stir yang ringan, dan tombol radio yang berada di stir guna memudahkan pergantian channel bagi pengemudi. Kesemuanya adalah hal-hal detail yang erat kaitannya dengan pengemudi dan pengendara. Tetapi, begitulah yang membuatnya mahal. Pembeda.

Sekian banyak kalimat di atas, saya harap pembaca sudah (cukup) mengerti tentang konsep why, how, and what. Sekarang, apa kaitannya dengan menjadi muslim?.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 446 other followers